SURAKARTA – Gelombang transformasi digital yang dipicu oleh kehadiran Artificial Intelligence (AI) kini telah menyentuh jantung ruang kelas: pendidikan matematika. Menyadari urgensi ini, Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) baru saja menggelar “Webinar Mathedu 2026” yang membedah secara mendalam bagaimana pendidik harus menavigasi peluang sekaligus tantangan di tengah dominasi teknologi ini. Runtuhnya hegemoni guru sebagai sumber tunggal.

Dalam pemaparannya, Dr. Masduki, M.Si., narasumber sekaligus sekretaris Program Magister Pendidikan Matematika UMS, menjelaskan bahwa “Siswa saat ini dapat mengakses jawaban dalam hitungan detik hanya dengan memberikan instruksi pada AI. Jika guru masih terpaku pada metode ceramah konvensional untuk menurunkan rumus atau langkah prosedural, maka peran guru perlahan-lahan akan kehilangan esensinya,” ujarnya. Menurutnya, AI memang menjadi ancaman bagi pengajaran yang hanya berfokus pada hasil akhir (produk), namun di sisi lain, AI adalah asisten 24 jam yang mampu meringankan beban administratif guru secara drastis. Membalik Paradigma, dari menghitung menjadi berpikir poin utama yang menjadi sorotan dalam diskusi ini adalah pergeseran fokus kurikulum kelas. Dr. Masduki menekankan bahwa ketika AI mampu mengerjakan soal-soal hitungan dengan sempurna, maka tugas utama guru bukan lagi melatih kecepatan berhitung, melainkan membangun kapasitas berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills / HOTS). Guru diharapkan beralih dari pengajaran procedural knowledge ke conceptual knowledge. Strategi yang disarankan meliputi, fokus pada Penalaran (Reasoning), alih-alih bertanya tentang jawaban akhir, guru harus menantang siswa dengan pertanyaan, “Mengapa langkah ini diambil?” atau “Bagaimana jika metodenya diubah?”
Pengembangan argumen & komunikasi: Siswa harus diajak untuk mempresentasikan ide dan mempertanggungjawabkan alur logis mereka di depan kelas, bukan sekadar menyalin hasil dari layar chatbot. Kreativitas & Eksplorasi: AI dapat digunakan sebagai mitra untuk mengeksplorasi berbagai solusi alternatif untuk satu permasalahan matematika yang sama. Menepis “Penyalahgunaan”: Guru sebagai kurator dan mentor. Salah satu kekhawatiran terbesar para pendidik yang hadir adalah potensi plagiarisme dan degradasi kemampuan berpikir siswa.
Dr. Masduki menegaskan bahwa solusi untuk masalah ini bukanlah dengan melarang AI, melainkan dengan mengubah cara kita melakukan penilaian (assessment). Penilaian yang hanya mengandalkan produk akhir (seperti tugas rumah tradisional) memang sangat rentan dimanipulasi oleh AI. Oleh karena itu, ia mendorong para guru untuk mulai mengadopsi 1) Presentasi lisan: Untuk memastikan siswa benar-benar memahami proses di balik jawaban. 2)Investigasi Matematika: Penugasan proyek berbasis konteks lokal yang memerlukan sentuhan emosional dan logika manusia, hal yang belum mampu sepenuhnya ditiru oleh mesin. Pendidikan Karakter: Fokus pada kejujuran akademik dan daya juang (adversity quotient) sebagai bagian integral dari proses pembelajaran.
Menuju guru inovatif 2026 webinar yang berlangsung selama lebih dari satu jam ini ditutup dengan ajakan optimis untuk melakukan transformasi diri. Guru tidak diminta untuk melawan teknologi, tetapi merangkulnya sebagai mitra kolaborasi yang efektif dalam mendesain pembelajaran yang lebih bermakna. ”Dunia telah berubah, dan cara mengajar kita harus berevolusi. Kita bukan lagi penyampai informasi, melainkan fasilitator, mentor, dan desainer pengalaman belajar yang humanis,” pungkas Dr. Masduki.Antusiasme peserta terlihat jelas dari sesi diskusi yang sangat hidup, menyoroti kebutuhan akan pelatihan teknis lebih lanjut mengenai penggunaan AI untuk pengembangan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan literasi numerasi di masa depan.

