Budaya Jadi Jembatan Matematika: Dosen Filipina Kagumi Inovasi Pembelajaran di Pendidikan  Matematika UMS

SURAKARTA -Batik Sido Mukti, permainan congklak, dan martabak manis. Ketiganya terdengar asing di ruang kelas matematika—tetapi di tangan mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kekayaan budaya lokal justru menjelma menjadi media pembelajaran yang memukau seorang dosen tamu dari Filipina.

Program Studi Pendidikan Matematika UMS menggelar kegiatan Visiting Lecturer pada Rabu, 10 Juni 2026. Hadir sebagai dosen tamu, Dr. Gemma F. Quintana dari Aklan State University, Filipina—seorang akademisi yang selama ini mendalami pembelajaran matematika kontekstual di kawasan Asia Tenggara.

Kegiatan dibuka oleh dosen pengampu mata kuliah Ethnomathematics and Realistic Mathematics, Sri Rejeki, S.Pd., M.Sc., Ph.D. Dalam pengantarnya, ia menekankan pentingnya mempertemukan mahasiswa calon guru dengan perspektif global agar mampu merancang pembelajaran yang relevan, bermakna, dan kontekstual.

Sesi utama menjadi panggung bagi tiga kelompok mahasiswa yang mempresentasikan rancangan model pembelajaran berbasis etnomatematika. Masing-masing kelompok mengeksplorasi unsur budaya yang berbeda, namun semuanya bertumpu pada satu tujuan: membuat matematika terasa nyata dan dekat bagi siswa.

Kelompok pertama memilih motif batik Sido Mukti Ceplok—motif khas Jawa yang sarat filosofi—sebagai konteks pembelajaran geometri untuk siswa kelas XI. Lewat eksplorasi motif batik, siswa diajak mengenali pola, simetri, dan transformasi bangun datar secara langsung.

Kelompok kedua membawa permainan tradisional congklak ke dalam pembelajaran bilangan bulat. Biji-biji congklak yang berpindah dari lubang ke lubang ternyata menyimpan konsep penjumlahan dan pengurangan yang kaya—sesuatu yang kerap diabaikan dari sudut pandang matematika formal.

Sementara itu, kelompok ketiga menghadirkan martabak manis dan kue lapis sebagai jembatan menuju pemahaman konsep pecahan. Dengan membagi lembaran kue, siswa belajar tentang pembilang, penyebut, dan operasi pecahan dengan cara yang paling sederhana: melalui makanan yang mereka kenal.

Dr. Gemma menyimak setiap presentasi dengan penuh perhatian. Ia memberikan apresiasi atas kepekaan mahasiswa dalam memilih konteks budaya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Namun ia juga mendorong para mahasiswa untuk melangkah lebih jauh.

Menurutnya, rancangan pembelajaran perlu diperkuat dengan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang mendorong siswa berpikir kritis. Eksplorasi konsep matematis yang muncul dari budaya juga perlu digali lebih dalam, bukan sekadar digunakan sebagai dekorasi. Representasi visual dan aktivitas belajar, lanjutnya, perlu diselaraskan secara lebih cermat dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Sesi diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Mahasiswa antusias mengajukan pertanyaan dan merespons masukan, menjadikan forum ini lebih dari sekadar evaluasi—melainkan ruang kolaborasi lintas batas.

Usai sesi perkuliahan, Dr. Gemma diajak mengunjungi ruang display dan bengkel alat peraga milik Program Studi Pendidikan Matematika UMS. Di sinilah kesan paling mendalam terukir baginya.

“I think that the mathematics education here is very innovative because you have these manipulatives laboratory that I think I haven’t seen that in other programs, even in the Philippines. So UMS is very innovative… when it comes to creativity, the mathematics education students here are really creative.”

Bagi Dr. Gemma, laboratorium alat peraga dan bengkel pengembangan media pembelajaran adalah cermin nyata dari komitmen UMS terhadap pendidikan matematika yang inovatif. Ia mengakui bahwa fasilitas semacam ini belum tentu ditemukan di universitas-universitas lain, bahkan di negaranya sendiri.

Sebelum mengakhiri kunjungannya, Dr. Gemma menyempatkan diri menyampaikan pesan langsung kepada para mahasiswa UMS—pesan yang melampaui batas akademik.

“Yes, I think that when I met some of the students here at UMS, they were very nice and kind, but I think they have a lot of talent and potential. They also have a lot of great professors and lecturers and my advice to them would be to be more confident and go out there, change the world, transform education because I believe that they can do it well.”

Kata-kata itu disambut dengan hangat. Kepercayaan diri, bagi Dr. Gemma, bukan sekadar soal tampil di depan kelas—melainkan tentang keberanian untuk membawa ide-ide segar ke dunia pendidikan yang lebih luas.

Kegiatan Visiting Lecturer ini bukan sekadar acara seremonial. Bagi Program Studi Pendidikan Matematika UMS, ini adalah wujud nyata dari komitmen untuk mendekatkan mahasiswa pada percakapan global tentang pendidikan matematika—tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengintegrasikan etnomatematika ke dalam kurikulum dan membuka ruang dialog dengan akademisi internasional, UMS membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak harus memunggungi tradisi. Justru sebaliknya—budaya lokal bisa menjadi titik tolak untuk memahami matematika secara lebih dalam, lebih bermakna, dan lebih manusiawi.